Posts

Jogja kala itu

  Judul: Jogja kala itu   Mentari senja membentang turun di Malioboro, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu. Aroma gudeg dari warung-warung lesehan mulai menyeruak, bercampur dengan batik wangi yang baru saja dijemur. Kala itu, Jogja masihlah sebuah kota yang tenang, jauh dari hiruk pikuk kendaraan modern. Sepeda ontel raja menjadi jalanan, mengantarkan para pedagang dan pelajar pulang ke rumah masing-masing.   Di sebuah rumah бер-аламat di dekat Alun-Alun Utara, hiduplah seorang gadis bernama Sekar. Ia adalah putri seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta. Setiap sore, Sekar selalu duduk di beranda rumahnya, menikmati alunan gamelan yang dimainkan dari dalam keraton. Sesekali, ia melirik ke arah jalanan, memperhatikan para pedagang yang menjajakan dagangannya dengan suara yang khas.   Suatu hari, seorang pemuda bernama Bagas datang ke Jogja. Ia adalah seorang mahasiswa dari luar kota yang sedang melakukan penelitian tentang seni batik. Bagas terpikat dengan k...